Jumat, 15 November 2013

DARI SURA KE SURA

Hari ini saya teringat satu interaksi saya setahun lalu dengan seorang kerabat, kerabat yang sangat saya hormati sebagai pengayom saya di keluarga besar.
Dengan berat hati saat itu saya ambil sebuah keputusan untuk menghilang dari hiruk pikuk istana Jawa, melebur kembali menjadi satu bersama masyarakat.
Suatu keputusan yang bisa saya jaga hampir satu tahun lamanya, namun beberapa waktu terakhir tergoyahkan.
Berikut interaksi saya satu tahun lalu,

"Assalamu'alaikum, wilujeng enjang kangmas R.M. Andre Adriano Soerjokoesoemo yang senantiasa saya cintai, hormati & banggakan. Mohon maaf sebelumnya atas apa yang akan sampaikan disini mas, sebenarnya ini hal yang sangat berat untuk saya putuskan.
Dengan berat hati saya mewakili para sedherek Garda MN Wilayah Jateng & DIY mohon undur diri dari kepengurusan Garda MN mas. Jujur kami merasa tidak nyaman terkait interaksi dengan mas XXX selama ini. Beliau sepertinya tidak memiliki respek pada kami.
Dimulai dari pernyataan memojokkan beliau di Grup FB yang dulu ketika berkunjung ke Jogja tidak mendapat sambutan dari Garda MN Jogja khususnya saya. Sekali lagi disini saya jelaskan posisi saya yang saat itu sedang berada di Temanggung & tak tahu menahu atas rencana kunjungan mas XXX ke Jogja. Saya baru tahu di hari H & itupun dari mas YYY (yang saat itu masih simpatisan Patrap). Sebenarnya yang layak kecewa saat itu saya karena mas XXX telah mengacuhkan saya sebagai Ketua Garda MN Jogja & lebih memilih berkomunikasi dengan mas YYY. Tapi memang menjadi tipikal saya untuk selalu berusaha mengalah kepada yang lebih tua mas, saya biarkan mas XXX menyerang karakter saya di Grup FB tersebut.
Kemudian interaksi negatif berlanjut lagi ketika di pagelaran Matah Ati mas XXX sama sekali tak membalas sms dari saya & membiarkan Garda MN Jogja menunggu beliau tanpa kepastian di pos keamanan gerbang barat Pura hingga pk 23.00 WIB dalam kondisi belum makan malam. Keesokannya ketika saya ingatkan di Grup FB mas XXX pun mengacuhkan saya secara terang-terangan di posting yang saya buat tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Kasus terakhir adalah yang terjadi di Grup BB kemarin dimana mas XXX menyebut istilah "Pengawal Londo mas Andre dari Jogja-Jateng", beliau melenggang dengan santainya mengacuhkan pertanyaan-pertanyaan saya & bahkan secara tidak langsung menganggap saya tidak waras dengan mengatakan "yang waras ngalah".
Kiranya sudah cukup saya dengan akumulasi itu semua kangmas. Dalam semua kasus itu juga kami menilai ada pembiaran yang terjadi dari pengurus pusat. Mungkin memang keberadaan saya di Garda MN sudah tak ada harganya lagi, khususnya bagi beliau calon Ketua Pelaksana Harian. Atas dasar itulah musyawarah Garda MN Jateng-DIY tadi malam dengan bulat memutuskan untuk mohon undur diri mas. Lebih baik kami yang mundur daripada hanya menjadi kotoran di Garda MN nantinya. Toh mumpung kartu anggota kami belum jadi & SK pembentukan Garda MN Wilayah Jateng-DIY juga belum dibuat.
Insya Allah tanpa kami pun Garda MN masih akan bisa berjalan sebagai mana mestinya. Mas Andre & mas Kiki kan sudah memiliki banyak punggawa setia disana. Yang kami tekankan disini, keputusan keluar dari kepengurusan ini bukan berarti putus hubungan kekeluargaan mas. Sampai mati saya tetap MN, tanpa terikat satu atau dua organisasi apapun. Jadi pasca ini sampai kapanpun saya akan tetap cinta, hormat & bangga pada mas Andre serta mas Kiki.
Kangmas berdua lah yang membuat saya 'kembali' ke Pura setelah sekian lamanya keluarga besar saya putus hubungan dengan MN. Kangmas berdua yang membuat saya memiliki gairah untuk menggali lebih dalam tentang khazanah MN. Saya akan selalu ingat perjumpaan pertama kita di Upacara Pengetan Ndalu 1 Sura 1945 Wawu, perjumpaan pertama saya dengan mbak Ami di Reksa Pustaka, petualangan saya ke ibu RAy. Siti Sundari & Museum Batik Danarhadi untuk mencari data batik, kunjungan saya ke FK UNS untuk membahas rencana baksos kita, rapat pertama kita di Sekretariat Garda, keikutsertaan saya di sarasehan Patrap sebagai mata-mata Garda MN, dan berbagai kenangan tak terlupakan lainnya.
Kenangan-kenangan itu akan dengan bangga saya ceritakan ke anak cucu saya nantinya bahwa saya pernah walau sekejap mewakili keluarga besar 'kembali' merapat pada saudara-saudara yang amat membanggakan di MN.
Terakhir, saya teringat kata-kata eyang kakung saya (Suko Sudarso) yang pernah saya sampaikan ke mas Andre di 9 Agustus 2011 (ketika sedang gonjang ganjing Patrap, dimana saat itu mas XXX masih berkongsi dengan mas Joko), "Kita tdk usah ikut-ikut yg seperti itu. Kita ini hanya keturunan rakyat kecil biasa, bukan orang jero beteng seperti mereka". Kata-kata itu secara serius diucapkan eyang Suko di hadapan saya & sahabat-sahabatnya (diantaranya saat itu hadir Bondan Gunawan & Eros Djarot). Kata-kata yang menambah rasa penasaran saya sejak mengetahui bahwa nama keluarga saya yang terakhir tercatat di Kitab Asalsilah adalah eyang Suryomijoyo (eyang wareng saya) dgn keterangan 'Kanjenganipun dereng kasumerepan turunanipun'.
Tapi sekarang saya tahu, bahwa memang hal itu sudah menjadi pilihan keluarga besar saya untuk 'menghilang'. Akan menyalahi aturan kiranya jika saya melawan kehendak eyang-eyang saya. Mungkin inilah saatnya saya kembali menjadi orang biasa mas, hanya Bagus si anak desa dari Temanggung putra pak Dirhansyah yang sedang mengejar cita-cita menjadi seorang insinyur minyak untuk bangsanya..
Sekali lagi terima kasih banyak atas bimbingannya selama ini, maaf saya hanya bisa sampai disini. Sesuai restu dari kedua orangtua saya, saya kembalikan mandat Ketua Garda MN Wilayah Jawa Tengah & DI Yogyakarta pada kangmas semua. Nuwun. Wassalamu'alaikum.

Ngayogyakarta Hadiningrat, 14 Sura Jimakir, Rasa Sekawan Aruming Praja.

-Mochammad Bagus Pratomo Ryagede bin Mochammad Dirhansyah Ryagede bin Mochammad Hendarmin Ryagede bin Mochammad Harun Ryagede bin Mochammad Hasan Ryagede bin Ryagede-"

Demikianlah satu interaksi emosional saya setahun lalu. Entah kenapa hari ini saya teringat kembali.
Hanya saja saya sering terpikir bahwa apa mungkin apa yang saya lakukan di masa ini salah?
Mengubah kehendak leluhur untuk benar-benar mengendap bersama masyarakat.
Akibatnya masalah demi masalah selalu saja menghantam hebat.
Saya memutuskan untuk merapat bersama mereka sejak tanggal 1 Sura dua tahun lalu, kata-kata di atas saya buat tanggal 14 Sura tahun lalu, dan hari ini adalah tanggal 12 Sura.
Saat ini intensitas interaksi saya dengan keluarga besar nan penuh gemerlap itu kembali tinggi,
apakah saya harus menghilang kembali?
Agar bisa rasakan hidup yang adem ayem tentrem lagi?
Ah entahlah, biar waktu yang kan menjawab semua pertanyaan itu.
Semoga Sura tahun depan jauh lebih baik....

Kamis, 11 April 2013

TERIMA KASIH KENANGANNYA, LASKAR BIRU...

Hari itu, 12 April 2012..
Hari yang penuh gejolak di salah satu kampus terkemuka Indonesia, Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta.
Hari dimana takdir membawaku ke dalam hiruk pikuk kehidupan kampus, menyandang sebuah status baru: Sekretaris Jenderal I "Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan" (HMTM).
Sejak itu hari-hariku pun berubah, dihinggapi banyak rutinitas padat dan tak jarang memaksa otak berpikir ekstra.
HMTM adalah organisasi tertinggi di Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta. Di bawahnya terdapat tujuh organisasi yang masing-masing memberi warna tersendiri bagi kehidupan kampus kami:

- "Muslims of Petroleum Engineering" (MPE)
- "Society of Petroleum Engineers" (SPE)
- "Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia" (IATMI)
- "Geothermal Study Club" (GSC)
- "Patrapala Petroleum Adventure"
- "Petroleum Christian" (PC)
- "Keluarga Mahasiswa Khatolik Teknik Perminyakan" (Kemaka)

Sudah menjadi satu peraturan tak tertulis bagi kami bahwa pimpinan HMTM adalah orang-orang yang harus paling dihormati di kampus. Selain membawahi tujuh President/Chairman/Ketua/Mas'ul organisasi-organisasi itu, pimpinan HMTM juga membawahi angkatan yang masing-masing dipimpin oleh seorang Komandan Tingkat (Komting). Di tahun 2009, tahun dimana aku bergabung ke dalam keluarga besar mahasiswa Teknik Perminyakan, sosok para pimpinan HMTM adalah sosok angker yang sangat menakutkan. Entah mengapa Allah SWT justru mengarahkanku untuk ambil bagian pula di posisi itu beberapa tahun kemudian.
Yang jelas aku selalu berusaha meninggalkan kesan angker itu jauh-jauh dari citraku. Dua tahun lamanya (2010-2012) aku dikenal sebagai Kepala Divisi Dana Usaha MPE, rasanya sangat aneh jika aku harus mengubah secara tiba-tiba perangaiku di hadapan kawan-kawan.
Bersama para pengurus HMTM 2012/2013, berbagai agenda besar kami rancang dan wujudkan:

- The 13rd "Petrollympic"
- The 3rd "Days of Petroleum" (DOP)
- The 1st "Perminyakan Respek Saling Memberi untuk Masyarakat" (Premium)
- The 3rd "Oil and Gas Intellectual Parade" (OGIP)
- The 1st "Expressive Sound of Petroleum" (ESP)
- dll (seminar nasional, courses, prosesi antar jemput wisuda, study club, angkringan party, bazaar, kajian agama, sarasehan, temu alumni, exhibition, futsal competition)

Berbagai usaha kami lakukan demi menjaga 'suara perminyakan tetap menggema di udara'.
Memegang tampuk kekuasaan atas program studi yang namanya paling dihormati di UPN "Veteran" Yogyakarta adalah hal yang cukup berat. 'Laskar Biru' ini harus senantiasa tercitra sebagai kumpulan orang-orang cerdas, kuat, solid dan berani. Disitulah tantangan untuk mengayomi dan melaksanakan pendidikan karakter bagi seluruh anggota keluarga besar kami terasa jauh lebih sulit, bahkan jika dibanding dengan usaha pencarian dana kegiatan yang jumlahnya ratusan milyar rupiah.
Alhamdulillah setelah berbagai suka duka kami lewati bersama, hari ini 11 April 2013 akhirnya proses pemungutan suara kandidat pimpinan HMTM periode 2013/2014 dapat berjalan dengan sukses.
Setelah sehari sebelumnya kami adakan agenda pemaparan visi-misi dan debat kandidat, hari ini terpilihlah figur yang akan menggantikan kerjaku selama kurang lebih satu tahun ke depan.
Sejenak semua terasa begitu melegakan, akhirnya selesai juga momen memikul tanggung jawab berat ini.
Tapi begitu proses penghitungan suara dimulai sore tadi, tiba-tiba saja detik terasa begitu lambat. Seakan terlintas kembali memori-memori selama satu tahun terakhir.
Menunggu pembacaan kertas suara itu membuatku teringat kembali dengan semua yang kurasakan pada momen yang sama satu tahun lalu. Ketegangan itu terhadirkan lagi dengan sempurna.
Dan ketika akhirnya nama pemenang pun diumumkan dengan lantang dan para pendukungnya bersorak sorai kegirangan, aku justru terdiam dan menikmati adegan demi adegan di masa lalu yang terus saja melintasi memori.
Masih sangat lekat dalam ingatan bagaimana alotnya proses kampanyeku dulu, bagaimana pelantikanku dilangsungkan, bagaimana serunya pelaksanaan Petrollympic yang jadi event perdana kami, bagaimana ketegangan dalam persiapan maupun pelaksanaan DOP yang penuh kontroversi, bagaimana lelahnya berkeliling Jogja mempersiapkan Premium, bagaimana sibuknya menjelajah Jakarta untuk persiapan OGIP yang jadi acara puncak kami, bagaimana sulitnya mencari pendanaan ESP yang jadi acara penutup periode kami, dll.
Teringat pula momen-momen kecil dimana secara bergantian para perwakilan organisasi di bawah naungan HMTM meminta tandatanganku di proposal kegiatan mereka, atau ketika aku memberi sambutan dan/atau membuka acara-acara mereka, atau ketika aku harus melakukan lobi yang alot dengan para dosen, atau ketika aku harus mengumpulkan semua Komting untuk memecahkan masalah antar angkatan, atau ketika aku harus berkoordinasi dengan para alumni untuk rencana pengembangan fisik kampus, atau ketika aku harus memenuhi undangan organisasi di luar kampus sebagai perwakilan keluarga besar mahasiswa Teknik Perminyakan UPN, atau ketika aku harus turun ke lapangan melerai pertikaian fisik (baca: tawuran) 'keluarga' kami dengan mahasiswa program studi/fakultas/universitas lain, atau bahkan kenangan kecil tentang bagaimana di setiap harinya aku menjadi 'satpam' di dalam kantor HMTM, dll.
Terasa sangat berat saat itu semua dulu harus kukerjakan, tapi kini datanglah rasa rindu akan masa-masa penuh kesibukan itu. Mungkin ini yang orang-orang sebut sebagai 'Post Power Syndrom"?
Ya mungkin saja.
Tapi sisi positifnya, setelah ini aku bisa jauh lebih fokus pada kewajiban akademikku. Mewujudkan harapan kedua orangtua tercinta, mengejar target wisuda akhir 2013. Mengejar mimpi menjadi seorang insinyur perminyakan yang punya andil besar dalam pengembangan energi alternatif/non-konvensional (khususnya Coalbed Methane) di Indonesia.
Terima kasih atas berjuta kenangan indahnya Laskar Biru, semoga organisasi besar ini dapat tetap berjalan dengan semestinya pasca kutinggalkan. Insya Allah semua kisah yang pernah kutuang di HMTM akan menjadi kisah yang takkan terlupakan dan menjadi pelajaran berharga untuk perjuangan di dunia industri migas esok hari nanti.Kini saatnya aku kembali menjadi mahasiswa biasa, yang berkutat dengan berjuta urusan hidup yang tak kalah menarik.
Dengan mengucap syukur alhamdulillah, mari kita sambut hari-hari baru! ^_^

#Sekjend.TM.(purn).R.M.Bagus Pratomo Ryagede





Senin, 25 Maret 2013

AKU DAN CBM, HARAPAN MASA DEPAN ENERGI INDONESIA

Hari ini adalah salah satu hari istimewa.
Syukur alhamdulillah tadi siang draft Komprehensif secara resmi kuserahkan ke dosen pembimbingku, Ir.H.Avianto Kabul Pratiknyo,MT.
Beberapa saat sebelum kuserahkan draft setebal 160 halaman itu, kubaca kembali buku panduan bimbingan Komprehensif-ku. Disitu tercatat kapan terakhir kalinya ku menghadap pak Avi, 11 Oktober 2012.
Ya, 5 bulan aku 'menghilang' !
Saking lamanya menghilang pak Avi sempat menyindirku di ruangnya tadi siang, "Kamu bimbingan saya to Gus?"
Semuanya membawa saya teringat kembali akan kisah bersejarah di bulan Oktober 2012 lalu...
Saat itu adalah momen yang paling ditunggu semua mahasiswa Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta, input mata kuliah 'Komprehensif' !
Mata kuliah ini adalah mata kuliah khas di kampus kami. Di masa lalu bernama 'Kolokium', namun sejak era reformasi diubah menjadi Komprehensif. Dulu, mahasiswa yang telah berhasil melalui Sidang Kolokium akan dianugerahi gelar 'Sarjana Muda Teknik Perminyakan'. Di masa ini, gelar itu ditiadakan karena banyak kasus mahasiswa yang telah bergelar SMT kemudian langsung bekerja di industri migas dan melupakan penyelesaian gelar sarjananya. Namun masih menjadi adat bagi mahasiswa di kampus kami hingga saat ini untuk memanggil kawan yang telah menyelesaikan Sidang Komprehensif nya dengan sebutan Sarjana Muda.
Mekanisme Komprehensif 90 % sama dengan Skripsi di kampus lain. Mahasiswa akan mengawalinya dengan mengajukan judul, membuat flowchart, mengajukan proposal, menyusun draft, menyusun slide presentasi dan diakhiri dengan presentasi di hadapan dosen dan mahasiswa lain.
Yang membedakannya dengan Skripsi adalah judul dan pembahasan Komprehensif masih bersifat umum, tidak seperti Skripsi/Tugas Akhir (TA) yang diharuskan memakai obyek sumur tertentu pada lapangan tertentu dan juga proses pengambilan data selama 1-3 bulan di lapangan/perusahaan.
Ya itulah bagian dari kurikulum di kampus kami. Sebagai perbandingan, di Indonesia hanya ada 3 Program Studi Teknik Perminyakan: Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta dan Universitas Trisakti Jakarta. 2 kampus yang lain ternyata tidak mengenal proses Komprehensif. Mereka yang telah sampai di semester akhir hanya akan fokus pada Skripsinya yang berupa sebuah paper.
Sejenak jika dipikir memang terlihat sangat tidak adil. Bayangkan perbedaannya dengan kampus kami yang mewajibkan seluruh mahasiswanya mengikuti alur akademik utama: Kuliah Lapangan Geologi Cepu (KLGC), Kuliah Lapangan Migas dan Panasbumi (KLMP), Kuliah Kerja Nyata (KKN), Kerja Praktek (KP), Komprehensif, Tugas Akhir (TA)/Skripsi dan Publikasi Paper Skripsi.
Belum lagi di tahap Komprehensif dan Skripsi yang kadang terhadang 'dosen killer'. Tak jarang senior di kampus ku tertahan selama lebih dari 1 tahun di tahap Komprehensif akibat mendapat dosen pembimbing yang 'nyleneh'.
Tapi belakangan aku bersyukur, itu semua lah yang menempa senior-senior kami yang sekarang ini mengisi mayoritas posisi 'Petroleum Engineer' di Timur Tengah, Afrika dan Indonesia sendiri. Hingga saat ini tercatat lebih dari 30 % insinyur perminyakan di Timur Tengah adalah insinyur lulusan UPN "Veteran" Yogyakarta (bukan lulusan Indonesia, tapi UPN secara spesifik), begitu pula di PT Pertamina (perusahaan migas nasional Indonesia, sekaligus perusahaan pemegang oil production rate terbesar di Asia Tenggara), insinyur perminyakan lulusan perguruan tinggi lain juga sangat bisa dihitung jari. Ini semua lah yang membesarkan nama almamater kami di kancah energi internasional.
Okay, kembali lagi ke kisahku di Oktober 2012...
Tibalah aku di hari distribusi dosen pembimbing. Hatiku agak dag-dig-dug karena santer dikabarkan dosen paling killer di kampus kami, Doktor X 'hobi mengincar' para petinggi mahasiswa kampus sebagai mahasiswa bimbingannya. Bukan rahasia lagi bahwa mahasiswa bimbingan beliau rata-rata harus tertahan selama kurang lebih 2 tahun untuk proses penyusunan Komprehensif itu. Kebetulan posisiku sendiri adalah Sekretaris Jenderal I 'Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan' (HMTM) UPN "Veteran" Yogyakarta, jadi sangat mungkin namaku menjadi incarannya.
Dengan harap-harap cemas, aku mengisi daftar mata kuliah yang kugemari secara jujur saat proses pendaftaran distribusi dosen pembimbing: Teknik Gas Bumi, Teknik Produksi I, Pengelolaan Industri Migas dan Panasbumi, Mekanika Fluida, dan Penilaian Formasi.
Tapi takdir berkata lain, ternyata Allah SWT memutuskanku untuk dibimbing oleh seorang dosen yang terkenal memiliki pengetahuan agama yang kuat dan berkarakter sangat baik: Ir.H.Avianto Kabul Pratiknyo,MT. Kebetulan sebelumnya kami juga memiliki hubungan yang cukup baik, mengingat pada 2 kuliah lapangan yang lalu beliau selalu menjadi pembimbing rombongan bis yang ku-koordinatori. Beliau saat ini juga menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta, orang nomor dua di kampus kami setelah Ir.H.Anas Puji Santoso,MT (Ketua Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta).
Di dunia Teknik Perminyakan, cabang keilmuan kami secara garis besar terbagi menjadi 3: Teknik Reservoir (Dikenal paling sulit. Isinya seputar evaluasi logging, penentuan karakteristik formasi, penghitungan besarnya reserves/cadangan, keekonomian, dsb), Teknik Produksi (Isinya seputar completion method, fluid lifting ke atas permukaan dan fasilitas di atas permukaan) dan Teknik Pemboran (Isinya terkait metode dan peralatan pemboran lapisan di bawah permukaan).
Sejak lama pamanku yang bekerja di PT Chevron Pasific Indonesia mengarahkanku untuk mengambil cabang ilmu Teknik Reservoir. Menurut beliau reservoir adalah inti dari ilmu perminyakan, tak bisa digantikan oleh insinyur dari bidang ilmu lain (Teknik Mesin, Teknik Kimia, dll). Sehingga jika telah menguasai Teknik Reservoir maka cabang ilmu yang lain akan mudah untuk dikuasai pula. Selain itu bukan rahasia bahwa penghasilan insinyur reservoir dikenal paling menggiurkan.
Tapi arahan itu tak pernah menarik hatiku, karena aku khawatir ilmu reservoir terlalu sulit untukku. Walau realitanya nilai-nilaiku memang paling tinggi di bidang reservoir, aku lebih merasa nyaman untuk ambil bagian di Teknik Produksi.
Menjelang semester 7 aku mendapat satu pencerahan untuk fokus di salah satu cabang ilmu Teknik Perminyakan selain Geothermal/Panasbumi, yaitu 'Coalbed Methane' (CBM) atau Gas Methana Batubara.
Pengembangan CBM di Indonesia baru dimulai tahun 2008. CBM hadir sebagai salah satu alternatif energi yang disiapkan untuk menggantikan minyak dan gas konvensional.

 
Secara sederhana CBM adalah gas methana (C1-C4) yang teradsorpsi ke dalam mikropori lapisan batubara (sub-bituminous sampai bituminous) dan terjebak volume air yang ada di makropori/cleat nya. Posisinya berada pada kedalaman 300-1000 m di bawah permukaan. Bagi anak-anak Teknik Pertambangan kedalaman itu terlalu dalam, namun bagi kami anak Teknik Perminyakan yang biasa mengeksploitasi migas konvensional di kedalaman 3000-10.000 m, kedalaman pada proses eksploitasi CBM bukanlah masalah utama.
Proses pembentukan CBM terjadi bersamaan dengan pembentukan lapisan batubara/coalifikasi. Dimulai dari tahap perubahan peat menjadi lignite, kemudian menjadi sub-bituminous, bituminous, anthracite dan terakhir graphite. Alur itu lah yang disebut sebagai coal rank.
Proses pembentukannya dikategorikan menjadi 2: biogenic dan thermogenic. Dalam proses biogenic CBM dibentuk oleh mikroorganisme dan hasilnya adalah dry gas (C1-C2), gas ini bisa dimanfaatkan sebagai 'Liqufied Natural Gas' (LNG). Sedangkan dalam proses thermogenic CBM dibentuk oleh pressure dan temperature, dimana hasilnya adalah wet gas (C3-C4) dan bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik.
Penentuan apakah CBM yang kita dapat merupakan over-saturated, saturated atau under-saturated dapat diketahui dari analisis grafik Langmuir isotherm.
CBM dikategorikan sebagai unconventional gas karena source rock nya berfungsi sekaligus sebagai reservoir rock, namun uniknya teknologi eksploitasi CBM dapat menggunakan teknik gas konvensional.
Bahkan untuk menghitung reserves nya juga digunakan rumus volumetris dan material balance yang digunakan pada gas konvensional, hanya saja ada tambahan gas content formula.
Parameter-parameter reservoir nya bisa diketahui melalui uji penilaian formasi: coal rank dari isopach mapping, gas content dari coring, seam thickness dari gamma ray log, pressure dari pressure build up (PBU) testing, temperature dari temperature log, cleat spacing dari coring, diffusion coefficient dari coring, compressibility dari coring, desorption isotherm dari coring, initial saturation dari combination log (resistivity log dan porosity log), permeability dari coring, dan desorption pressure dari PBU testing.
CBM juga bisa digolongkan ke dalam renewable energy/'Energi Baru Terbarukan' (EBT), karena cadangan gas di lapisan batubara akan terus terisi kembali sejalan dengan proses coalifikasi.
Untuk memproduksi CBM dibutuhkan adanya proses desorption, diffusion dan flowing. Ketiga hal itu bisa terjadi jika water trap yang terdapat dalam volume yang sangat besar di cleat dipompakan ke atas permukaan, proses ini dinamakan dewatering. Semakin banyak kita membuat infill well, maka akan semakin cepat pula CBM ikut terproduksi ke permukaan.
Pengeboran sumurnya pun cukup unik, karena formasi batubara cenderung rapuh sehingga perlu pressure maintenance yang lebih cermat dan penggunaan udara sebagai fluida pemboran untuk menggantikan drilling mud.
Alhamdulillah Indonesia dianugerahi Allah SWT dengan kandungan CBM terbesar ke-5 di dunia dengan resourch sebanyak 453,3 TCF. Sejak pengembangan CBM dicanangkan pada 2008, saat ini telah ada 54 Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) CBM dengan pemain utama adalah Vico, Pertamina, Epindo dan Medco Energy. CBM menjadi harapan di tengah kekhawatiran makin menipisnya cadangan energi konvensional Indonesia.
UPN "Veteran" Yogyakarta seperti halnya dalam pengembangan Geothermal, kembali hadir sebagai pelopor pengembangan CBM. Apalagi setelah si 'empunya' Epindo, mas Amrullah Hasyim (angkatan '74) dilantik menjadi Ketua 'Ikatan Alumni Teknik Perminyakan Indonesia' (IAMI) UPN "Veteran" Yogyakarta.
Kembali ke Oktober 2012, saat itu tepatnya hari Jum'at tanggal 5 Oktober 2012. Bertepatan dengan hari lahir 'Tentara Nasional Indonesia' (TNI), aku mengobrak-abrik perpustakaan Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta. Beberapa jam kuhabiskan di dalamnya untuk mencari referensi literatur dan merancang judul Komprehensif ku. Setelah shalat tahajjud dan terus berdoa memohon petunjuk-Nya, akhirnya pada 7 Oktober 2012 tertulislah 3 rancangan judul:
1. Penggunaan Logging dalam Perkiraan Cadangan pada Reservoir Coalbed Methane
2. Peranan Data Penilaian Formasi untuk Perkiraan Cadangan pada Reservoir Coalbed Methane
3. Peranan Analisis Uji Sumur untuk Menentukan Karakteristik Reservoir Coalbed Methane
Ya, seakan Allah SWT mengarahkanku, aku tak punya pilihan selain mengambil bidang Teknik Reservoir sebagai bahan Komprehensif ku. Hal ini karena Indonesia sama sekali belum memulai produksi CBM, sehingga akan sangat sulit melakukan studi literatur untuk hal itu. Sedangkan Teknik Pemboran sejak awal aku tak meliriknya sama sekali, orang-orang pemboran adalah mereka yang hobi bertualang meninggalkan rumah dan keluarga dalam waktu yang sangat lama. Aku adalah seorang pria yang bermimpi dapat menjadi suami dan ayah yang ideal bagi keluarganya.
Dengan realita bahwa materi perkiraan cadangan adalah ilmu yang sangat sulit, maka perkiraan cadangan CBM adalah 'mbahnya' sulit.
Senin, 8 Oktober 2012 berbekal 3 rancangan judul itu kumasuki ruangan pak Avi untuk bimbingan yang pertama kalinya. Aku memasuki ruangan beliau bersama seorang kawanku, Revy yang mengambil rancangan judul terkait problem produksi. Revy kupersilahkan untuk bimbingan terlebih dahulu.
Ia menyerahkan 5 rancangan judul pada pak Avi yang kemudian dikomentari beliau, "Coba yang nomor ini dan nomor ini digabung jadi satu. Gimana itu bahasanya yang enak? Coba dicari ya, besok Kamis ketemu saya lagi."
Sedangkan ketika giliran ku beliau berkomentar, "Wah, sesuatu yang baru ini. Menarik. Semangat ya Gus, jangan seperti teman-teman yang lain, nyerah kalau sudah terbentur literatur yang minim. Hmm, memang ada bedanya penilaian formasi di CBM dengan di gas konvensional?" Aku menjawab, "Ada pak. Karena reservoirnya berbeda, pasti karakteristiknya juga beda. Nah, mekanisme penilaian formasinya pasti juga beda." Mendengar jawabanku itu beliau langsung menanggapi, "Baik, saya pilih ini (sambil melingkari rancangan judul nomor 2 ku). Langsung buat proposalnya ya."
Yes, dan jadilah aku mahasiswa Teknik CBM ke-9 di Indonesia !!!
Aku keluar ruangan beliau dengan wajah yang sangat cerah. Rasanya momen wisuda itu tinggal sebentar lagi.
Teman-teman yang bertanya perihal judulku selepas bimbingan itu kujawab, "Kalian akan jadi pengguna hebat dari banyak rumus dan formula rumit di Teknik Perminyakan, belajar dari buku tokoh-tokoh dunia minyak legendaris. Kalau aku akan jadi pencipta rumus dan formula di dunia CBM, sejarah akan mencatat namaku sebagai salah satu pelopor pengembangan energi CBM Indonesia."
Di lantai dasar kampus, tepatnya di depan ruang kantor HMTM aku bertemu Ketua HMTM yang kebetulan juga dibimbing oleh pak Avi. Ia bertanya, "Gimana Gus? Udah bimbingannya? Dapet judul apa?"
Aku menjawab dengan penuh senyum sumringah, "Peranan Data Penilaian Formasi untuk Perkiraan Cadangan pada Reservoir Coalbed Methane".
Dan tanpa diduga dia berkata, "Langsung dapet judulnya di bimbingan pertama?? Anjing ! Dulu aku sampe harus ngadep 3 kali. Rancangannya aja 20, kamu cuma 3." Aku hanya bersyukur dalam hati, ternyata pak Avi telah berbaik hati padaku.
Hari Kamis nya, 11 Oktober 2012, pagi-pagi aku sudah datang ke kampus membawa proposal Komprehensif ku. Bersama Revy aku memasuki ruang pak Avi, kembali kupersilahkan Revy untuk memulai sesi bimbingan ini.
Lagi-lagi pak Avi kurang sreg dengan judul yang dirancang Revy, "Coba masalah problem korosi ini dikaitkan secara komprehensif dengan ilmu yang lain. Cari bahasanya yang pas."
Dan ketika giliranku pak Avi berkata, "Oke sip, sangat menarik. Rancangan daftar isinya juga bagus. Langsung buat draft sampai selesai ya Gus."
Subhannallah lagi-lagi pak Avi menunjukkan kebaikannya, akhirnya dapat kumulai perjuangan draft itu.
Tapi ternyata disitulah tantangannya...
Ternyata memang tantangan tersendiri untuk belajar dari nol mengenai pembentukan lapisan dan lingkungan pengendapan batubara yang sebenarnya adalah 'makanan sehari-hari' anak Teknik Pertambangan.
Begitu juga untuk mencari literatur tentang eksploitasi CBM serta metode penilaiaan formasi dan perhitungan perkiraan cadangannya.
Yah, itulah akhirnya yang menahanku selama 5 bulan tak berjumpa dengan pak Avi terkait Komprehensif. Berkali-kali aku menghadap beliau, namun itu terkait program HMTM. Rasanya 'gatal' ketika melihat beberapa teman telah menyelesaikan sidang Komprehensif nya dan mendengar beberapa yang lain telah melalui bimbingan bab-bab terakhirnya.
Hal itu lah yang mendorongku untuk 'menggenjot' habis-habisan penyusunan Komprehensif ku pada 15-16 Maret 2013 lalu. Ya, ternyata dengan metode lembur hingga jam 3 pagi selama dua hari draft Komprehensif setebal 160 halaman itu berhasil kuselesaikan.
Tadinya aku berniat langsung menghadap pak Avi pada 18 Maret 2013, tapi aku memutuskan untuk menggunakan waktu selama 1 minggu untuk memahami lebih dalam apa yang telah kutulis. Hingga akhirnya datanglah hari ini, 25 Maret 2013.
Aku kembali memasuki ruang kerja pak Avi bersama Revy. Kawanku itu juga baru memulai kembali bimbingannya pada 1 bulan lalu, kini ia sudah mencapai Bab 5.
Setelah sindiran pak Avi yang kuceritakan di atas, aku menjelaskan pada beliau, "Maaf sekali saya baru menghadap bapak sekarang. Saya harus belajar dari nol terkait batubara nya pak, benar-benar ilmu baru."
Pak Avi kemudian melihat-lihat isi Komprehensif saya, mengangguk-angguk dan berkata, "Isinya menarik sekali Gus. Oke ini saya terima, saya pelajari dulu. Pertemuan berikutnya langsung kita diskusikan Bab 2 ya."
Langsung saja kujawab dengan antusias, "Besok Kamis ya pak?"
Alhamdulillah ternyata pak Avi masih berbaik hati padaku, bahkan Bab 1 pun beliau lewatkan sehingga aku bisa lebih menghemat waktu. Rasanya Bab 7 (bab terakhirku) tinggal di depan mata.
Mungkin beliau menaruh harapan besar padaku untuk bisa mengembangkan potensi CBM di negeri ini lebih jauh. Ya, itulah memang visi saya pak. Akan saya buat bapak bangga besok melihat anak bimbingannya menjadi tokoh pelopor pembangunan dunia energi CBM Indonesia, aamiin.
Ya itulah kisah yang sangat berharga bagiku hari ini. Insya Allah ini adalah momentum bagiku untuk kembali mengobarkan semangat juang. R.M. Bagus Pratomo Ryagede, ST on October, 2013 !!
Indonesia, nantikan kontribusiku ! From campus leader to field leader !!!
Bismillah :)


Kamis, 21 Maret 2013

SENYUM SEORANG PEMIMPIN

Dada rasanya sesak, helaan nafas terus menerus harus kuperdengarkan, gairah untuk melakukan hal apapun tak berkobar sama sekali, di kepala ini rasanya banyak hal berkutat mendorong mulut ingin berteriak keras-keras...
Senyum demi senyum kupaksakan hari ini, tak boleh kupengaruhi semangat siapapun hanya demi kegelisahan pribadi. Teman-temanku, lingkunganku, semua butuh pacuan semangat dariku..
Pertanyaan kecil kadang muncul, "Lalu siapa yang jadi penyemangatku..?"
Allah SWT, Penciptaku selalu jadi penyemangatku. Ia kirimkan banyak orang, banyak hal, banyak alasan agar aku bisa terus semangat.
Semangat kalian semua lah yang jadi sumber semangatku...

Di tengah kegelisahan ini tiba-tiba aku teringat sebuah interview salah satu stasiun TV dengan Ratna Sari Dewi Sukarno, istri Presiden Sukarno di akhir masa hidupnya. Saat itu sang reporter bertanya, "Bagaimana ibu bisa yakin bahwa bapak mencintai ibu?"
Ratna dengan penuh kenangan di matanya menjawab, "Saya tahu bapak sangat mencintai saya. Bapak selalu ingin terlihat kuat, tegar dan berani di hadapan rakyat. Dia tidak ingin rakyatnya kehilangan semangat. Dia percaya jika ia terlihat kuat maka rakyatnya pun akan kuat menghadapi berbagai cobaan di masa itu. Tapi bersama saya bapak bisa jadi manusia seutuhnya, dia bisa terlihat sedih, takut dan menangis. Di depan saya bapak tak pernah menutup-nutupi isi hatinya."

Hmm..begitulah keteladanan seorang Sukarno. Ia bisa memaksakan dirinya selalu terlihat tegar untuk menjaga semangat orang-orang yang dicintainya, tapi ia menjadi dirinya secara utuh di hadapan orang yang paling dicintainya.
Disitulah aku belajar untuk bisa benar-benar menjalankan petuah, bahwa "Pemimpin Sejati Tak Mudah Terbawa Emosi".. Pemimpin adalah sosok yang paling mempengaruhi hati orang-orang di sekitarnya, maka ia wajib bisa mengatur kondisi hatinya.
Segelisah, sesedih, sesakit, dan semenderita apapun seorang pemimpin, ia harus bisa terus mengembangkan senyumnya. Karena senyumnya adalah sumber senyum bagi yang lain...
Persis seperti impian masa kecilku, menjadi 'Penyambung Hati Rakyat Indonesia'.
Nah, tinggal bagaimana si pemimpin menemukan sosok tepat yang membuat dirinya mampu menjadi diri seutuhnya. Sosok yang tak hanya menjadi tempat berbagi kebahagiaan, tapi juga tempat dimana ia bisa ungkap segala kekhawatiran, kekecewaan, kesedihan, ketakutan dan bahkan kebencian. Belahan jiwa yang mampu bersama-sama mencari solusi di berbagai badai samudera kehidupan..
Okay, selamat beristirahat Indonesia ! Mari tersenyum sampai akhir... ^_^



Selasa, 05 Maret 2013

KEKASIH IMAJINER



Malam terus berganti..



Bintang pun berganti posisi..



Namun rasa hati tak bisa berganti..



Sebuah harapan terus menyala didalamnya..



Semangat itu tetap ada disini..



Mungkin waktu belum bisa menjawabnya,



dan semua masih tampak bagai jalan tak berujung..



Memaksaku merindukan sesuatu yang belum pernah kumiliki..



Seakan merengkuhmu adalah bagian dari masa laluku,



seperti itulah aku membayangkan masa depanku..



Indah tercipta dalam imaji,



merasuk dalam di hati...


Yogyakarta, 5 Maret 2013
MBPR

 

Kamis, 21 Februari 2013

CEPAT SEMBUH EYANG......


Aku masih teringat masa-masa kecilku di Jakarta dulu.
Realitanya di saat itu ibuku sedang sibuk-sibuknya meniti karier. Tiap harinya beliau sudah berangkat kerja jam 6 pagi, menyusuri macetnya jalanan menuju kantor Depkes RI di daerah Kuningan dan baru pulang ke rumah sekitar jam 7 malam. Sementara ayahku bertugas di Brebes.
Jadilah tiap harinya sepulang sekolah aku dijemput untuk kemudian dibawa ke rumah nenekku.
Saat aku duduk di bangku TK Nol Kecil, ibuku terpaksa memasukkanku ke sebuah sekolah milik Persatuan Wanita Kristen Indonesia (TK PWKI). Hal ini terpaksa dilakukan ibuku karena hanya itu TK yang dekat posisinya dengan rumah kami yang diberikan oleh orangtua ibuku di daerah Kebayoran Baru.
Tiap pagi aku diantar dua orang pembantu ke sekolah. Di jam pulang sekolah, biasanya sudah ada mobil sedan Volvo hitam parkir di depan TK. Itulah salah satu nenekku, eyang Inneke yang hampir tiap hari menjemputku dari sekolah. Biasanya saat menjemputku itu beliau sudah menyiapkan sekotak Dunkin Donuts kesukaanku, lalu supir pun membawa kami menuju Plaza Senayan untuk berbelanja. Tiap hari ada saja mainan baru yang kubawa ke rumah.
Rutinitas itu berlangsung hingga aku akan naik kelas ke TK Nol Besar. Di saat itulah nenekku yang lain tampil..
Ibu dari ayahku, eyang Hanny adalah seorang muslimah yang taat. Hal itu wajar mengingat ayah beliau adalah seorang ulama kenamaan di Betawi, sedangkan beliau sendiri dikenal sebagai mantan Sekretaris Menteri Agama RI.
Beliau sangat tidak setuju jika aku disekolahkan di TK milik yayasan Kristen. Tapi ibuku beralasan bahwa hanya TK itulah yang ada di dekat rumah kami. Kondisi ibuku yang sangat sibuk dan ayahku yang berada di luar kota tak memungkinkan aku disekolahkan di lokasi yang jauh dari rumah.
Akhirnya menjelang aku naik ke TK Nol Besar eyang Hanny menyampaikan gagasan spektakuler beliau pada ibuku, "Lia, mulai sekarang keluargamu harus pindah rumah. Mamah udah siapin rumah baru buat kalian di Depok, deket rumah mamah. Bagus jadi bisa sekolah di TK Islam paling bagus disana."
Subhannallah, ternyata sedemikian khawatirnya eyang Hanny pada pendidikanku hingga beliau menyediakan sebuah rumah baru untuk kami.
Sejak itu rutinitasku berubah, aku memasuki lingkungan baru di Depok.
Aku disekolahkan di TK Nurul Islam. Tiap hari ada mobil antar-jemput yang membawaku ke sekolah di pagi hari dan mengantarkanku pulang di siang hari. Sang supir sudah paham bahwa tiap pulang sekolah aku harus diantarkan ke rumah nenekku.
Aku masih teringat hobiku saat masa TK di Depok itu. Entah kenapa sejak pindah rumah aku jadi susah makan.
Aku hanya mau makan jika makanannya adalah masakan ibuku, makanan fovoritku, disuapi dan..... memakannya sambil naik becak !
Uniknya nenekku mengikuti kemauanku itu. Eyang Hanny menyiapkan sebuah becak, yang tiap jam makan siang mengantarkanku berkeliling kompleks perumahan sambil disuapi eyang. Tukang becak dadakannya adalah adik sulung ayahku, om Eko. Tentu hal ini menjadi pemandangan yang menggelikan bagi para tetangga, tapi nenekku tak peduli. Apapun dilakukannya demi aku, cucu pertama yang sangat disayanginya.
Lebih ektrem adalah saat aku dan ibuku masih tinggal di Tasikmalaya. Di kota penempatan pertama ibuku itu kami hanya tinggal berdua karena ayahku sudah ditugaskan di Brebes. Suatu hari eyang Hanny sangat ingin mengunjungi cucu kesayangannya. Karena tak ada supir yang bisa mengantar di hari itu, beliau nekat ke Tasikmalaya yang jaraknya sangat jauh dari Depok dengan menyetir mobil sendiri ditemani ibu dari ibuku.
Kembali ke masa saat tinggal di Depok. Tiap hari minggu beliau pasti bertanya padaku, "Bagus hari ini mau jalan-jalan kemana?". Biasanya aku akan jawab antara Kebon Raya Bogor, Dufan, Taman Safari, Taman Mini atau Mall Depok. Seketika itu juga eyang Hanny akan mewajibkan seluruh anggota keluarga untuk bersiap, rekreasi bersama ke tempat yang ingin ku tuju. Satu rombongan yang terdiri dari eyang Hanny, kedua orangtuaku, aku, om Eko, om Anshor, tante Eva dan tante Kandi akan menghabiskan hari minggu yang panjang itu bersama-sama. Untuk menyiasati hal ini, seringkali pada malam minggu satu persatu keluargaku mendekatiku untuk membujuk berbagai hal: "Bagus, besok kita jalan-jalan ke Mall Depok aja ya? Nanti om traktir ke Timezone deh.", "Gus, besok kita main bulutangkis di lapangan kompleks aja ya? Pasti seru.", "Mas Bagus, besok kita nonton film di rumah aja ya. Nanti tante pinjemin CD film-film baru. Ok?". Tentu saja keputusan akhir berada di tanganku, namun tak jarang aku juga mengiyakan usul mereka.
Ketika aku menginjak bangku SD eyang Hanny menyerahkan hadiah yang tak tanggung-tanggung, deposito pendidikan sebesar $ 10.000. Beliau berharap nantinya aku bisa mempergunakannya untuk menempuh pendidikan di universitas. Betapa aku merasa mendapat tempat spesial di hati beliau. Ternyata peranku sebagai cucu pertama begitu istimewa bagi beliau.
Sayang, kedekatanku dengan beliau menjadi terhalang ketika ayahku dipindahtugaskan ke Banjarmasin. Ibuku memutuskan membawaku untuk hidup merantau di Kalimantan bersama ayahku. Sejak itu intensitas pertemuanku dengan eyang Hanny menurun. Beliau menyempatkan untuk mengunjungi kami di rantau setahun sekali, begitu juga kami yang selalu pulang ke Jawa tiap Idul Fitri.
Eyang sangat senang ketika akhirnya kedua orangtuaku memutuskan untuk kembali hidup di Jawa. Takdir membawa kami untuk tinggal di sebuah kota kecil Jawa Tengah, Temanggung. Walau cukup jauh dari Depok, eyang Hanny sangat sering mengunjungi kami. Di Temanggung biasanya beliau menghabiskan waktu bersamaku menikmati keindahan alam yang masih asri disana.
Pernah suatu ketika kami menyempatkan berkeliling kota menggunakan delman/dokar/andong, beliau begitu bahagia dan bangga melihat banyak orang di sepanjang jalan yang kami lewati mengenalku sebagai 'anaknya bu Dahlia dan pak Dirhansyah'. Bagi beliau itu berarti kedua orangtuaku berhasil membangun citra yang baik dan diterima oleh masyarakat setempat, yang membuat beliau juga menjadi tenang.
Eyang Hanny sejak muda dikenal sebagai seorang yang 'tak bisa kalah'. Begitu juga dalam hal menyayangiku, beliau tak mau dianggap kurang dibanding orangtua ibuku. Saat orangtua ibuku memberiku sebilah keris dan cundrik Mangkunagaran, tak lama kemudian eyang Hanny juga memberikanku sebuah cincin akik dan sebilah keris Pajajaran.
Suatu hari beliau juga berkata di depan seluruh keluarga, "Mamah punya firasat kuat, besok bakal ada cucu mamah yang jadi Presiden. Mamah yakin itu pasti Bagus, bakat kepemimpinannya udah menonjol dari dulu."
Karena itulah hingga sekarang semua om dan tanteku sangat mendukung tiap langkahku. Mereka siap support penuh jika nantinya mereka dibutuhkan menjadi mesin politik utamaku di masa depan.
Yah, itulah sedikit hal yang tiba-tiba terbesit lagi di anganku hari ini. Sebenarnya aku bertekad untuk bisa lebih fokus dalam menjalani Kerja Praktek hari ini, tanpa upload foto dan update notes galau. Seseorang yang sangat istimewa di hatiku menyadarkanku akan hal itu tadi pagi. Tapi realitanya adalah pagi ini eyang Hanny juga kembali dilarikan ke rumah sakit...
Beliau kembali anfal (serangan jantung) setelah sempat istirahat di rumah selama dua hari. Beberapa hari lalu beliau koma dan harus dirawat di ICU, sayangnya setelah keluarga bernafas lega sejenak, hari ini beliau kembali diuji Allah SWT. Dan yang kusedihkan adalah di saat darurat seperti ini aku masih belum bisa meninggalkan Sumatera, karena harus menyelesaikan kewajiban Kerja Praktek di Pertamina...
Ini adalah anfal ke-3 beliau dalam setahun terakhir. Ya, setahun terakhir ini kondisi kesehatan eyang semakin menurun seiring bertambahnya usia beliau.
Tak ada lagi momen-momen indah aku dipelukannya, momen kami saling melempar tebak-tebakan dan cerita humor, momen aku berkeliling Temanggung dengan andong bersamanya, momen kami membaca Al-Qur'an dengan kusyu' bersama, momen kami berbelanja dan berekreasi bersama, momen aku membantunya memasak berbagai masakan enak di dapur.................
Cepet sembuh eyang, eyang harus ada di hari pernikahan Bagus besok....Eyang harus nimang anak Bagus....Eyang harus ikut ajarin dia ngaji.....Eyang harus ajarin istri Bagus masak....Eyang harus liat Bagus pidato kenegaraan di TV....Kita naik haji bareng nanti..........
Cepet sembuh eyang..............................................Biar kita bisa becandaan bareng lagi......

Selasa, 19 Februari 2013

GUNDAH YANG BRUTAL !!!!!!!!!!!!!

Malam ini pikiranku kalut, hanya ada gundah di hati..
Tidur susah, mau berbuat apapun linglung rasanya.
Mestinya bisa kutoreh beberapa kalimat menjadi untaian syair yang mungkin dapat membuat ini semua lebih sentimentil, atau bisa kuambil salah satunya dari ratusan koleksi puisi buatanku dulu..
Tapi setelah puisi-puisi itu ku review kembali, justru aku tersadar, CINTA ITU HANYA SUMBER KEGELISAHAN !
Ratusan puisi yang jadi saksi bisu kisah-kisah terdahuluku, hanya menyayat lagi luka-luka lama yang dulu ada dan sebagian terulang lagi di masa kini.
Semua kisah cenderung sama, ketulusan dan kesetiaan yang dipandang sebelah mata lalu menghadirkan kepedihan mendalam. Ya, cerita cinta realitanya hanya menyuguhkan konflik yang itu-itu saja.
Malam ini tak perlu ada puisi, tak perlu kata yang berbelit-belit.
Terlalu banyak kepura-puraan dan ketidakjelasan yang sudah terjadi di muka bumi, tak usahlah harus kutambah lagi ketidakjelasan itu dengan kata-kataku.
Aku lelah, lelah memikirkan semua ini !
Ingin rasanya kuberteriak keras-keras meluapkan emosi, tapi dunia ini sudah cukup gila tanpa dukungan kegilaanku yang macam itu.
Haaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh.............
Kenapa hati & pikiran ini terus saja melayang kemana-mana..? Tak bisa bisakah Kau berikan ketenangan padaku Yaa Allah? 
Hanya Engkau Yang Maha Menyibak segala misteri, hanya Engkau Yang Maha Mengatur segala kebaikan.........


#catatan seorang pria yang punya kebiasaan jelek: Negative thinking, Sensitif, Egois, Ambisius, Cemburuan, Angkuh, Sombong, Malas, Apatis, Gengsian, Boros, Jail dan Rindu akut dapat dicintai sepenuh hati oleh orang yang juga dia cintai sepenuh hati 




Rabu, 30 Januari 2013

SEJARAH KERAJAAN PERTAMA DI INDONESIA



Berbicara tentang sejarah Indonesia maka tak lepas dari sederet nama kerajaan yang pernah berdiri di bumi Nusantara. Dari sekian banyak kerajaan itu, hanya sedikit yang kemudian familiar di telinga masyarakat. Kali ini saya akan mengajak anda mengingat kembali salah satunya. Kita akan bahas alur sejarah sebuah kerajaan yang diyakini sebagai peradaban tertua di Indonesia, Kutai

KERAJAAN KUTAI MARTADIPURA

Kita akan mulai dengan Kutai Martadipura, kerajaan bercorak Hindu yang memiliki bukti sejarah tertua di Nusantara. Berdiri sekitar abad ke-4, pusat kerajaan ini terletak di hulu sungai Mahakam (tepatnya di Muara Kaman, Kalimantan Timur). Nama Kutai diberikan oleh para ahli, diambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut. Kerajaan ini memiliki wilayah kekuasaan yang cukup luas, yaitu mencakup hampir seluruh Kalimantan Timur bahkan hingga seluruh Pulau Kalimantan.

Ada tujuh buah Yupa (prasasti dalam upacara pengorbanan) yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai Martadipura. Yupa sendiri adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tiang untuk menambat hewan yang akan dikorbankan.

Dari salah satu Yupa tersebut diketahui bahwa salah satu raja yang pernah memerintah Kutai Martadipura adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam Yupa karena kedermawanannya menyumbangkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kudungga. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat dipengaruhi bahasa Sansekerta bila dilihat dari cara penulisannya. Sedangkan nama Kudungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai nama asli Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama budaya India, namun Kudungga diduga awalnya adalah seorang kepala suku yang setelah masuknya budaya India ke Nusantara kemudian diangkat menjadi seorang raja. Ada juga versi yang menyebutkan bahwa sebenarnya dia adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Nusantara dan mendirikan kerajaan disini.

Aswawarman diyakini sebagai Raja Kutai pertama yang beragama Hindu. Ia juga dikenal sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. Mengapa bukan Kudungga yang menjadi pendiri dinasti tetapi justru anaknya? Hal ini diyakini karena Raja Kudungga belum memeluk agama Hindu, sehingga ia tidak bisa dianggap sebagai pendiri dinasti Hindu.

Aswawarman disebut sebagai seorang raja yang cakap dan kuat. Dia pula yang memiliki jasa paling besar atas perluasan wiayah Kerajaan Kutai Martadipura. Perluasan wilayah diakukan oleh Aswawarman dengan cara melakukan upacara Asmawedha, yaitu upacara pelepasan kuda untuk menentukan batas wilayah kerajaan. Kuda-kuda yang dilepas ini diikuti oleh prajurit kerajaan yang akan menentukan wilayah kerajaan sesuai dengan sejauh mana jejak telapak kaki kuda dapat ditemukan. Aswawarman memiliki 3 orang putera, yang salah satunya adalah Mulawarman.

Berikut adalah nama-nama raja yang pernah memerintah Kutai Martadipura:

  1. Maharaja Kudungga, gelar anumerta Dewawarman
  2. Maharaja Asmawarman
  3. Maharaja Mulawarman
  4. Maharaja Marawijaya Warman
  5. Maharaja Gajayana Warman
  6. Maharaja Tungga Warman
  7. Maharaja Jayanaga Warman
  8. Maharaja Nalasinga Warman
  9. Maharaja Nala Parana Tungga
  10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
  11. Maharaja Indra Warman Dewa
  12. Maharaja Sangga Warman Dewa
  13. Maharaja Candrawarman
  14. Maharaja Sri Langka Dewa
  15. Maharaja Guna Parana Dewa
  16. Maharaja Wijaya Warman
  17. Maharaja Sri Aji Dewa
  18. Maharaja Mulia Putera
  19. Maharaja Nala Pandita
  20. Maharaja Indra Paruta Dewa
  21. Maharaja Dharma Setia
Dari Yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai Martadipura mengalami masa keemasan. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur.

KESULTANAN KUTAI KARTANEGARA

Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri pada awal abad ke-13 di daerah yang bernama Tepian Batu atau Kutai Lama (kini menjadi sebuah desa di wilayah Kecamatan Anggana) dengan rajanya yang pertama yakni Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325), sama seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Batuta. Nama ‘Kutai’ disadur dari bahasa China, ‘Kho Thay’ yang berarti ‘negara yang besar’. Sedangkan ‘Kartanegara’ berarti ‘mempunyai peraturan’. Jadi makna nama Kutai Kartanegara adalah ‘negara besar yang mempunyai peraturan’.

Kerajaan ini disebut dengan nama Kerajaan Tanjung Kute dalam Kakawin Nagarakretagama (1365), yaitu salah satu daerah yang berhasil ditaklukan oleh Maha Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit. Pada masa pemerintahan Maharaja Sultan (1370-1420), raja dan adiknya berkunjung ke Majapahit untuk belajar adat istiadat dan tata pemerintahan pada Maha Patih Gajah Mada. Sejak saat itu Majapahit menempatkan seorang Patih di Kutai Kartanegara sebagai representasi pengakuan kekuasaan Majapahit disana.

Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (1663), Kutai Kartanegara juga merupakan salah satu ‘tanah di atas angin’ (sebelah utara) yang mengirim upeti kepada Maharaja Suryanata, Raja Banjar-Hindu (Negara Dipa) pada abad ke-14.

Adanya dua kerajaan di tanah Kutai menimbulkan rivalitas. Ketegangan demi ketengangan terjadi. Akhirnya riwayat Kerajaan Kutai Martadipura berakhir pada abad ke-16, saat Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara, Raja Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa. Raja Kutai Kartanegara pun kemudian mengubah nama kerajaannya menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sebagai simbol peleburan antara dua kerajaan tersebut.

Sejak tahun 1636, Kutai diklaim oleh Kesultanan Banjar sebagai salah satu vazalnya karena Banjarmasin sudah memiliki kekuatan militer yang memadai untuk menghadapi serangan Kesultanan Mataram yang telah berhasil menguasai Sukadana dan berambisi menaklukan seluruh Kalimantan. Sebelumnya Banjarmasin merupakan vazal Kesultanan Demak (penerus Majapahit), tetapi semenjak runtuhnya Demak (1548), Banjarmasin tidak lagi mengirim upeti kepada pemerintahan di Jawa. 

Sekitar tahun 1638 (sebelum perjanjian Bongaya), Sultan Makassar (Gowa-Tallo) meminjam Pasir, Kutai, Berau dan Karasikan (Kepulauan Sulu/Banjar Kulan) sebagai tempat berdagang kepada Sultan Banjar IV Mustain Billah/Marhum Panembahan. Hal ini disampaikan Sultan Makassar pada Kiai Martasura yang diutus ke Makassar untuk mengadakan perjanjian dengan I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud, yaitu Raja Tallo yang menjabat sebagai Mangkubumi (Putra Mahkota) bagi Sultan Malikussaid (Raja Gowa) tahun 1638-1654.

Pada abad ke-17, agama Islam yang disebarkan Tuan Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan (ulama Makassar) diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu dipimpin Aji Raja Mahkota Mulia Alam. Sejak itu gelar raja diganti menjadi sultan. Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1738) merupakan Sultan Kutai Kartanegara pertama yang menggunakan nama Islami. Dan kemudian nama kerajaan pun berganti menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.

Sebagai indikator kuatnya pengaruh agama Islam di Kutai, dikenal adanya Undang-undang Beraja Nanti (Undang-Undang Dasar kerajaan) bernama Panji Selaten yang disandarkan pada hukum Islam. 

Tahun 1732 ibukota Kesultanan Kutai Kartanegara pindah dari Kutai Lama ke Pemarangan (sekarang Desa Jembayan, Loa Kulu).

Sultan Aji Muhammad Idris yang merupakan menantu dari Sultan Wajo, La Madukelleng berangkat ke tanah Wajo, Sulawesi Selatan untuk turut bertempur melawan VOC bersama rakyat Bugis. Saat itu pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara untuk sementara dipegang oleh Dewan Perwalian.

Pada tahun 1739, Sultan Aji Muhammad Idris gugur di medan laga. Sepeninggal Sultan Idris, terjadilah perebutan tahta kerajaan oleh Aji Kado. Putra Mahkota kerajaan, Aji Imbut yang saat itu masih kecil kemudian dilarikan ke Wajo. Aji Kado kemudian meresmikan namanya sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan menggunakan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyeddin.

Setelah dewasa, Aji Imbut sebagai Putra Mahkota yang sah dari Kesultanan Kutai Kartanegara kembali ke tanah Kutai. Oleh kalangan Bugis dan kerabat istana yang setia pada mendiang Sultan Idris, Aji Imbut dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin. Penobatan Sultan Muslihuddin ini dilaksanakan di Mangkujenang. Sejak itu dimulailah perlawanan terhadap Aji Kado.

Tahun 1747 VOC mengakui Pangeran Tamjidullah I sebagai Sultan Banjar padahal saat itu sebenarnya dia hanyalah Mangkubumi. Pada 1765 VOC berjanji membantu Sultan Tamjidullah I yang pro VOC itu untuk menaklukan kembali daerah-daerah yang memisahkan diri, diantaranya Kutai berdasarkan perjanjian 20 Oktober 1756. 

Sementara itu di Kutai sedang berlangsung siasat embargo yang ketat oleh Sultan Muslihuddin terhadap Aji Kado. Armada bajak laut Sulu terlibat dalam perlawanan ini dengan melakukan penyerangan dan pembajakan terhadap armada Aji Kado. Tahun 1778 Aji Kado meminta bantuan VOC namun tidak dapat dipenuhi, karena di tahun itu VOC sedang disibukkan usaha merebut Landak dan Sukadana (sebagian besar wilayah Kalimantan Barat saat ini) dari kekuasaan Sultan Banten.

Pada tahun 1780, Sultan Muslihuddin berhasil merebut kembali ibukota Pemarangan dan secara resmi dinobatkan kembali sebagai sultan yang sah dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin di istana Kesultanan Kutai Kartanegara. Aji Kado dihukum mati dan dimakamkan di Pulau Jembayan.

Sultan Muslihuddin memindahkan ibukota Kesultanan Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan pada tanggal 28 September 1782. Perpindahan ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh kenangan pahit masa pemerintahan Aji Kado dan Pemarangan dianggap telah kehilangan tuahnya. Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti ‘Rumah Raja’, lama-kelamaan Tangga Arung lebih populer dengan sebutan Tenggarong dan tetap bertahan hingga kini.

Pada 13 Agustus 1787, Sultan Banjar Sunan Nata Alam membuat perjanjian dengan VOC yang menjadikan Kesultanan Banjar resmi sebagai daerah protektorat VOC sedangkan daerah-daerah lainnya di Kalimantan yang dahulu kala pada abad ke-17 pernah menjadi vazal Banjarmasin diserahkan secara sepihak sebagai properti VOC. 

Tahun 1809 Pemerintah Hindia Belanda meninggalkan Banjarmasin dan menyerahkan benteng Tatas serta benteng Tabanio kepada Sultan Banjar. Setelah wilayah Hindia Belanda diserahkan kepada Inggris karena Belanda kalah dalam peperangan, sejak itu Alexander Hare menjadi Wakil Pemerintah Inggris di Banjarmasin sejak 1812. 

Tanggal 1 Januari 1817 Inggris menyerahkan kembali wilayah Hindia Belanda termasuk Banjarmasin dan daerah-daerahnya kepada Belanda, kemudian Belanda memperbaharui perjanjian dengan Sultan Banjar. Negeri Kutai diserahkan sebagai daerah pendudukan Hindia Belanda dalam Kontrak Persetujuan Karang Intan I pada 1 Januari 1817 antara Banjar yang diwakili oleh Sultan Sulaiman dengan Hindia Belanda yang diwakili oleh Residen Aernout van Boekholzt. 

Perjanjian berikutnya pada tahun 1823, negeri Kutai diserahkan menjadi daerah pendudukan Hindia Belanda dalam Kontrak Persetujuan Karang Intan II pada 13 September 1823 antara Sultan Sulaiman dengan Residen Tobias.

Negeri Kutai ditegaskan kembali termasuk daerah-daerah pendudukan Hindia Belanda di Kalimantan menurut Perjanjian Sultan Adam al-Watsiq Billah dengan Hindia Belanda yang ditandatangani dalam loji Belanda di Banjarmasin pada tanggal 4 Mei 1826.

Tahun 1838 Sultan Muslihuddin mangkat dan pucuk pimpinan Kesultanan Kutai Kartanegara digantikan oleh Sultan Aji Muhammad Salehuddin.


PERTEMPURAN MELAWAN PENJAJAH

Pada tahun 1844, 2 buah kapal dagang pimpinan James Erskine Murray asal Inggris memasuki perairan Tenggarong. Murray datang ke Kutai untuk berdagang dan meminta tanah untuk mendirikan pos dagang serta hak eksklusif untuk menjalankan kapal uap di perairan Mahakam. Namun Sultan Salehuddin mengizinkan Murray untuk berdagang hanya di wilayah Samarinda saja. Murray kurang puas dengan tawaran Sultan ini. 

Setelah beberapa hari di perairan Tenggarong, Murray melepaskan tembakan meriam ke arah istana dan dibalas oleh pasukan kerajaan Kutai. Pertempuran pun tak dapat dihindari. Armada pimpinan Murray akhirnya kalah dan melarikan diri menuju laut lepas. Lima orang terluka dan tiga orang tewas dari pihak armada Murray, dan Murray sendiri termasuk di antara yang tewas tersebut.

Kabar insiden pertempuran di Tenggarong ini sampai ke pihak Inggris. Sebenarnya Inggris hendak melakukan serangan balasan terhadap Kutai, namun ditanggapi oleh pihak Belanda bahwa Kutai adalah salah satu bagian dari wilayah Hindia Belanda dan Belanda akan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan caranya sendiri. 

Kemudian Belanda mengirimkan armadanya dibawah komando t’Hooft dengan membawa persenjataan yang lengkap. Setibanya di Tenggarong, armada t’Hooft menyerang istana Sultan Kutai. Sultan Salehuddin diungsikan ke Kota Bangun. Panglima Perang Kutai, Pangeran Senopati Awang Long bersama pasukannya dengan gagah berani bertempur melawan armada t’Hooft untuk mempertahankan kehormatan Kutai. Awang Long gugur dalam pertempuran yang kurang seimbang tersebut dan Kesultanan Kutai Kartanegara akhirnya kalah dan takluk pada Belanda.

Pada tanggal 11 Oktober 1844, Sultan Salehuddin harus menandatangani perjanjian dengan Belanda yang menyatakan bahwa Sultan Kutai mengakui pemerintahan Hindia Belanda dan mematuhi pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan yang diwakili oleh seorang residen yang berkedudukan di Banjarmasin. Tahun 1846, H. von Dewall menjadi administrator sipil Belanda yang pertama di pantai timur Kalimantan. 

Pada tahun 1850, Sultan Sulaiman memegang tampuk kepemimpinan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Pada tahun 1853, Pemerintah Hindia Belanda menempatkan J. Zwager sebagai Assisten Residen di Samarinda. Saat itu kekuatan politik dan ekonomi masih berada dalam genggaman Sultan Sulaiman. Dalam tahun 1853 itu penduduk Kesultanan Kutai Kartanegara tercatat sebanyak 100.000 jiwa.

Pada 17 Juli 1863, Kutai kembali mengadakan perjanjian dengan Belanda. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Kesultanan Kutai Kartanegara menjadi daerah Swapraja dari Pemerintahan Hindia Belanda. Bentuk Swapraja dipilih karena Belanda menyadari tak memiliki kekuatan untuk memerintah secara langsung dari Batavia. Sehingga dengan status ini Kutai seperti halnya kerajaan yang lain dapat mengatur perundangan sendiri, melaksanakan otonomi, melakukan pengadilan sendiri dan melakukan tugas kepolisian sendiri. Status serupa juga diperoleh Kasultanan Ngayogyakarta, Kasunanan Surakarta, Praja Mangkunagaran dan Kadipaten Pakualaman Adikarta di Jawa

Dokumentasi bentuk istana Sultan Kutai hanya ada pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman yang kala itu beribukota di Tenggarong, setelah para penjelajah Eropa melakukan ekspedisi ke pedalaman Mahakam pada abad ke-18. Carl Bock, seorang penjelajah berkebangsaan Norwegia yang melakukan ekspedisi Mahakam pada tahun 1879 sempat membuat ilustrasi pendopo istana Sultan Sulaiman. Istana Sultan Kutai pada masa itu terbuat dari kayu ulin dengan bentuk yang cukup sederhana.

Tahun 1888, pertambangan batubara pertama di Kutai dibuka di Batu Panggal oleh insinyur tambang asal Belanda, J.H. Menten. Menten juga meletakkan dasar bagi eksploitasi minyak pertama di wilayah Kutai. Kemakmuran wilayah Kutai pun nampak semakin nyata sehingga membuat Kesultanan Kutai Kartanegara menjadi sangat terkenal pada masa itu. Royalti atas pengeksloitasian sumber daya alam di Kutai diberikan kepada Sultan Sulaiman.

Tahun 1899 Sultan Sulaiman wafat dan digantikan Putra Mahkotanya, Aji Mohammad dengan gelar Sultan Aji Muhammad Alimuddin. Sultan Alimuddin mendiami istana baru yang terletak tak jauh dari bekas istana Sultan Sulaiman. Istana Sultan Alimuddin ini terdiri dari dua lantai dan juga terbuat dari kayu ulin (kayu besi). Istana ini dibangun menghadap sungai Mahakam.

Tahun 1905, Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk memerintah secara langsung Kota Samarinda. Sejak itu Kutai tak memiliki lagi kekuasaan politik di salah satu kota terbesar Kalimantan itu.
Sultan Alimuddin hanya bertahta dalam kurun waktu 11 tahun saja, beliau wafat pada tahun 1910. Berhubung pada waktu itu Putra Mahkota Aji Kaget masih belum dewasa, tampuk pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara kemudian dipegang oleh Dewan Perwalian yang dipimpin oleh Aji Pangeran Mangkunegoro.

Pada tanggal 14 Nopember 1920, Aji Kaget dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Parikesit namun hal ini juga banyak mengalami kontroversi karena ada beberapa kerabat tidak setuju dengan pengangkatan tersebut, hal ini dikarenakan anggapan bahwa Aji Pangeran Soemantri lah yang berhak diangkat menjadi Sultan Kutai. Pada beberapa media juga disebutkan bahwa pengangkatan Aji Muhamad Parikesit dikarenakan kedua saudaranya telah meninggal. Hal inilah yang mengundang banyak kontroversi dari berbagai pihak.

Sejak awal abad ke-20, perekonomian Kutai berkembang dengan sangat pesat sebagai hasil pendirian perusahaan Borneo-Sumatra Trade Co. Pada tahun-tahun tersebut, kapital yang diperoleh Kutai tumbuh secara mantap melalui surplus yang dihasilkan tiap tahunnya. Hingga tahun 1924 Kutai telah memiliki dana sebesar 3.280.000 Gulden, jumlah yang sangat fantastis untuk masa itu.

Tahun 1936, Sultan Parikesit membongkar istana kayu peninggalan Sultan Alimuddin dan mendirikan istana baru yang megah nan kokoh yang terbuat dari bahan beton. Untuk sementara waktu, Sultan Parikesit beserta keluarga kemudian menempati istana lama peninggalan Sultan Sulaiman. Pembangunan istana baru ini dilaksanakan oleh HBM (Hollandsche Beton Maatschappij) Batavia dengan arsiteknya Estourgie. Dibutuhkan waktu satu tahun untuk menyelesaikan istana ini. Setelah fisik bangunan istana selesai pada tahun 1937, baru setahun kemudian yakni pada tahun 1938 secara resmi didiami oleh Sultan Parikesit beserta keluarga. Peresmian istana yang megah ini dilaksanakan cukup meriah dengan disemarakkan pesta kembang api pada malam harinya. Sementara itu, dengan telah berdirinya istana baru maka istana peninggalan Sultan Sulaiman kemudian dirobohkan. Pada masa sekarang ini areal bekas istana Sultan Parikesit juga telah diganti dengan sebuah bangunan baru yakni Gedung Serapo LPKK.

Jepang menduduki wilayah Kutai pada tahun 1942, sejak itu Sultan Kutai harus tunduk pada Kaisar Jepang. Jepang memberi Sultan gelar kehormatan ‘Koo.

MASA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Indonesia merdeka pada tahun 1945. Dua tahun kemudian, Kesultanan Kutai Kartanegara dengan status Daerah Swapraja masuk ke dalam Federasi Kalimantan Timur bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir dengan membentuk Dewan Kesultanan. Kemudian pada 27 Desember 1949 masuk dalam Republik Indonesia Serikat.

Berdasar UU Darurat No.3 Tahun 1953, Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom tingkat kabupaten.

Pada masa kejayaannya hingga tahun 1959, Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas. Wilayah kekuasaannya meliputi beberapa wilayah yang ada di propinsi Kalimantan Timur saat ini, yakni:
  1. Kabupaten Kutai Kartanegara
  2. Kabupaten Kutai Barat
  3. Kabupaten Kutai Timur
  4. Kota Balikpapan
  5. Kota Bontang
  6. Kota Samarinda
  7. Kecamatan Penajam
Dengan demikian, luas dari wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara hingga tahun 1959 adalah seluas 94.700 km2.
Namun pada tahun 1959 itu, berdasarkan UU No. 27 Tahun 1959 tentang “Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Kalimantan”, wilayah Daerah Istimewa Kutai dipecah menjadi 3 Daerah Tingkat II, yakni:
  1. Daerah Tingkat II Kutai dengan ibukota Tenggarong
  2. Kotapraja Balikpapan dengan ibukota Balikpapan
  3. Kotapraja Samarinda dengan ibukota Samarinda
Pada tanggal 20 Januari 1960 bertempat di Gubernuran di Samarinda, A.P.T. Pranoto yang menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Timur, atas nama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia melantik dan mengangkat sumpah 3 kepala daerah untuk ketiga Daerah Swatantra tersebut, yakni:
  1. A.R. Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai
  2. Kapten Soedjono sebagai Walikota Kotapraja Samarinda
  3. A.R. Sayid Mohammad sebagai Walikota Kotapraja Balikpapan
Sehari kemudian pada tanggal 21 Januari 1960 bertempat di Balairung Istana Sultan Kutai, Tenggarong diadakan Sidang Khusus DPRD Daerah Istimewa Kutai. Inti dari acara ini adalah serah terima pemerintahan dari Kepala Kepala Daerah Istimewa Kutai, Sultan Aji Muhammad Parikesit kepada Aji Raden Padmo (Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai), Kapten Soedjono (Walikota Samarinda) dan A.R. Sayid Mohammad (Walikota Balikpapan). Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara dibawah Sultan Aji Muhammad Parikesit pun berakhir dan beliau hidup menjadi rakyat biasa.

Berikut adalah nama para raja yang pernah memerintah Kutai Kartanegara:

1.    Aji Batara Agung Dewa Sakti
2.    Aji Batara Agung Paduka Nira
3.    Aji Maharaja Sultan
4.    Aji Mandarsyah
5.    Aji Pangeran Tumenggung Baya-Baya
6.    Aji Raja Mahkota
7.    Aji Dilanggar
8.    Aji Pangeran Sinom Panji Mendapa
9.    Aji Pangeran Agung
10.  Aji Pangeran Dipati Majakesuma
11.  Aji Bagi Gelar Ratu Agung
12.  Pangeran Jembangan
13.  Aji Yang Begawan
14.  Aji Sultan Muhammad Idris
15.  Aji Marhum Muhammad Muslihuddin
16.  Aji Sultan Muhammad Salehuddin
17.  Aji Sultan Muhammad Sulaiman
18.  Aji Sultan Muhammad Alimuddin
19.  Aji Sultan Muhammad Parikesit
20.  Sultan Aji Muhammad Salehuddin II

Setelah pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara berakhir, bangunan istananya seluas 2.270 m2 tetap menjadi kediaman Sultan Parikesit hingga tahun 1971. Istana Kutai kemudian diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada tanggal 25 Nopember 1971. Pada tanggal 18 Februari 1976, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyerahkan bekas Istana Kutai kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dikelola menjadi sebuah museum dengan nama Museum Mulawarman. Di dalam museum ini disajikan beraneka ragam koleksi peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara, di antaranya singgasana, arca, perhiasan, perlengkapan perang, tempat tidur, seperangkat gamelan, koleksi keramik kuno dari China, dan lain-lain.

Di dalam area istana Sultan Kutai juga terdapat makam para raja dan keluarga kerajaan. Jirat atau nisan Sultan dan keluarga kerajaan ini kebanyakan terbuat dari kayu besi yang dapat tahan lama dengan tulisan huruf Arab yang diukir. Sultan-sultan yang dimakamkan disini di antaranya adalah Sultan Muslihuddin, Sultan Salehuddin, Sultan Sulaiman dan Sultan Parikesit. Hanya Sultan Alimuddin saja yang tidak dimakamkan di lingkungan istana, beliau dimakamkan di tanah miliknya di daerah Gunung Gandek, Tenggarong.

Pada tahun 1999 Bupati Kutai Kartanegara, Syaukani Hasan Rais berniat untuk menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Dikembalikannya Kesultanan ini bukan dengan maksud untuk menghidupkan feodalisme di daerah, namun untuk upaya pelestarian warisan sejarah dan budaya Kerajaan Kutai sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Selain itu dihidupkannya tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara diharapkan dapat mendukung sektor pariwisata Kalimantan Timur dalam upaya menarik minat wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Pada tanggal 7 Nopember 2000, Bupati Kutai Kartanegara bersama Putra Mahkota Kutai Aji Pangeran Prabu Anum Surya Adiningrat menghadap Presiden RI Abdurrahman Wahid di Bina Graha Jakarta untuk menyampaikan maksud di atas. Presiden Wahid menyetujui dan merestui dikembalikannya Kesultanan Kutai Kartanegara kepada keturunan Sultan Kutai yakni Putra Mahkota Aji Pangeran Prabu.

Pada tanggal 22 September 2001, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat resmi dinobatkan menjadi Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Salehuddin II

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara kemudian membangun sebuah istana baru yang disebut Kedaton bagi Sultan Kutai Kartanegara. Bentuk istana yang terletak disamping Masjid Jami’ Aji Amir Hasanuddin ini memiliki konsep rancangan yang mengacu pada bentuk istana Kutai pada masa pemerintahan Sultan Alimuddin.

 
GELAR KEBANGSAWANAN

Dalam Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, gelar kebangsawanan yang digunakan oleh keluarga kerajaan adalah Aji. Gelar Aji diletakkan di depan nama anggota keluarga kerajaan. Dalam gelar kebangsawanan Kutai Kartanegara dikenal penggunaan gelar sebagai berikut:
  • Aji Sultan: digunakan untuk penyebutan nama Sultan bagi kerabat kerajaan.
  • Aji Ratu: gelar yang diberikan bagi permaisuri Sultan.
  • Aji Pangeran: gelar bagi putera Sultan.
  • Aji Puteri: gelar bagi puteri Sultan. Gelar Aji Puteri setara dengan Aji Pangeran.
  • Aji Raden: gelar yang setingkat di atas Aji Bambang. Gelar ini diberikan oleh Sultan hanya kepada pria bangsawan Kutai yang sebelumnya menyandang gelar Aji Bambang.
  • Aji Bambang: gelar yang setingkat lebih tinggi dari Aji. Gelar ini hanya dapat diberikan oleh Sultan kepada pria bangsawan Kutai yang sebelumnya menyandang gelar Aji saja.
  • Aji: gelar bagi keturunan bangsawan Kutai. Gelar Aji hanya dapat diturunkan oleh pria bangsawan Kutai. Wanita Aji yang menikah dengan pria biasa tidak dapat menurunkan gelar Aji kepada anak-anaknya.
  • Aji Sayid: gelar ini diturunkan kepada putera dari wanita Aji yang menikah dengan pria keturunan Arab.
  • Aji Syarifah: gelar ini diturunkan kepada puteri dari wanita Aji yang menikah dengan pria keturunan Arab.
Demikianlah sedikit kisah mengenai sejarah peradaban tertua di Indonesia yang dapat kita bahas kali ini. Satu hal yang menarik adalah, ternyata peradaban ini tidak berdiri di tanah Jawa yang saat ini mendominasi roda pemerintahan Indonesia. Ini adalah bukti bahwa daerah di luar Jawa mampu dan memiliki kesempatan untuk mensejajarkan diri dalam berkembang meraih kemajuan dan kesejahteraan.

Teruslah semangat dan optimis dalam menatap masa depan, Indonesia ! WAJA SAMPAI KAPUTING !!!